0 0
Lion Bar: Cokelat Maskulin yang Kini Terasa Discontinued
Categories: Food News

Lion Bar: Cokelat Maskulin yang Kini Terasa Discontinued

Read Time:2 Minute, 46 Second

www.opendebates.org – Kisah sebuah cokelat batangan bisa memberi gambaran jelas tentang perubahan zaman. Nestlé Lion Bar, yang dulu dikemas sebagai camilan super maskulin, jadi contoh menarik. Di era ketika batas gender terasa kaku, produk ini dipromosikan terutama untuk pria. Kini, pendekatan sempit seperti itu terasa kuno, bahkan seolah pantas discontinued dari rak ide pemasaran modern.

Perjalanan Lion Bar menunjukkan bagaimana satu produk bisa bertahan secara fisik, namun persepsi publik terhadapnya berubah total. Dari bar cokelat bertema kekuatan pria, menuju camilan universal yang menyasar siapa saja. Di tengah maraknya produk yang benar-benar discontinued, Lion Bar memberi pelajaran berbeda: kadang bukan fisik produknya yang dihentikan, melainkan cara kita memandang dan mempromosikannya.

Dari Cokelat “Khusus Pria” ke Publik yang Lebih Kritis

Saat pertama kali diperkenalkan, Lion Bar tampil agresif. Iklan menonjolkan energi, keberanian, serta citra laki-laki tangguh. Pesan tersiratnya jelas: ini bukan sekadar camilan, ini “bahan bakar” untuk pria aktif. Pendekatan itu mungkin laku keras pada masanya, namun kini terasa seperti warisan yang seharusnya discontinued demi kepekaan sosial yang lebih sehat.

Penekanan pada maskulinitas ekstrem ikut membentuk budaya konsumsi. Cokelat, makanan sederhana yang mestinya netral, berubah menjadi simbol identitas gender. Perusahaan seakan berkata, produk manis hanya cocok untuk pria bila dibalut citra keras. Di titik ini, tampak bahwa strategi semacam itu tidak hanya ketinggalan zaman, tetapi layak dipertimbangkan sebagai pendekatan yang sudah selayaknya discontinued.

Dari sudut pandang pribadi, saya melihat Lion Bar sebagai cermin transisi. Dahulu, masyarakat jarang mempertanyakan pesan di balik iklan. Kini, konsumen lebih kritis terhadap stereotip. Pergeseran ini menimbulkan pertanyaan penting: sampai kapan kita memaklumi strategi pemasaran yang memisahkan snack berdasarkan gender? Dalam konteks etika komunikasi merek, cara lama tersebut terasa pantas ditempatkan di rak discontinued gagasan kuno.

Maskulinitas di Bungkus Cokelat: Relevan atau Usang?

Menjual cokelat lewat citra “jantan” bukan langkah tunggal Lion Bar. Banyak merek lain, terutama beberapa dekade lalu, mengadopsi cara serupa. Tenaga, kekuatan, kerja fisik berat, semua ditempelkan pada produk manis. Tujuannya jelas: menepis anggapan bahwa kudapan cokelat itu feminin. Kini, dengan kacamata masa kini, strategi seperti itu tampak rapuh, seperti konsep yang siap discontinued kapan saja.

Maskulinitas bergaya lama yang dikaitkan dengan kekerasan, kebengisan, atau dominasi mulai ditinggalkan. Konsumen generasi baru menghargai kelembutan, empati, serta inklusivitas. Lion Bar yang dahulu “khusus pria” perlahan berubah menjadi snack netral. Label, iklan, hingga pesan publiknya menyesuaikan. Identitas lawas perlahan terasa seperti aksesori yang tersisa di museum, bukan lagi inti merek, nyaris seolah versi lamanya sudah discontinued secara sunyi.

Pertanyaan menarik muncul: apakah produk dengan identitas gender sebaiknya diteruskan atau discontinued? Menurut saya, jawabannya bergantung pada keberanian perusahaan mengakui perubahan nilai sosial. Bila merek terus memaksakan imaji lawas, publik akan menjauh. Sebaliknya, bila berani menghapus narasi sempit, produk memperoleh kesempatan hidup baru. Lion Bar menjadi contoh bahwa rebranding bisa menyelamatkan produk lama dari nasib benar-benar discontinued di kesadaran konsumen.

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Lion Bar?

Kisah Lion Bar mengajarkan bahwa sesuatu yang populer di masa lalu tak selalu layak dipertahankan utuh. Produk boleh tetap ada, namun cara memaknainya perlu berevolusi. Stereotip gender, terutama yang mengekang, pantas masuk kategori nilai yang discontinued: dihentikan, disimpan sebagai catatan sejarah, bukan panduan masa depan. Pada akhirnya, kita sebagai konsumen punya peran. Setiap pilihan belanja adalah suara kecil yang menentukan pendekatan pemasaran mana yang lestari dan mana yang harus kita relakan untuk benar-benar discontinued, demi budaya konsumsi yang lebih adil dan reflektif.

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %
Ilham Bagaskara

Recent Posts

Range Baru di Midtown Sacramento: Patio, Rasa, Gaya

www.opendebates.org – Midtown sacramento sedang memasuki babak baru kuliner kota. Sebuah hotspot populer dari Roseville…

11 jam ago

Local News: Alarm Keamanan Pangan di Berks County

www.opendebates.org – Berita local news dari Berks County pekan ini mengguncang kepercayaan publik terhadap kebersihan…

22 jam ago

12 Things To Do Kuliner di Lunar New Year Disneyland

www.opendebates.org – Setiap awal tahun, banyak orang menyusun daftar things to do versi pribadi. Bagi…

23 jam ago

Red Apple Cafe: Surga Food & Drink di Fresno

www.opendebates.org – Di pojok tenang northwest Fresno, ada satu tempat sarapan yang pelan-pelan menjelma legenda…

2 hari ago

Prue Leith, Food, dan Masa Depan Bake Off

www.opendebates.org – Ketika kabar kepergian Prue Leith dari “The Great British Bake Off” berembus, dunia…

2 hari ago

Kisruh Toxin di Infant Formula: Pelajaran Pahit

www.opendebates.org – Isu keamanan infant formula kembali menjadi sorotan setelah dua raksasa industri, Lactalis dan…

3 hari ago